Mencari Alternatif Pengganti Dropbox

Setelah aktif menggunakan layanan cloud storage dari Dropbox.com selama kurang lebih tiga tahun dan merasa puas, beberapa hari yang lalu tiba-tiba mendapatkan email pemberitahuan bahwa penambahan kapasitas gratis yang saya dapatkan selama ini akan berakhir. Penambahan kapasitas gratis yang saya dapatkan ini ternyata adalah paket bundling dengan perangkat smartphone Samsung Galaxy yang saya miliki. Saat ini kapasitas Dropbox saya adalah 55,5 GB dan sudah digunakan sekitar 22GB dan jika nantinya dikurangi kapasitas tambahan maka hanya akan tersedia 10GB saja. Over quota nih ceritanya.

Well, berhubung sudah puas dengan Dropbox, saya berpikir untuk upgrade saja ke layanan berbayar karena pastinya akan lebih baik. Namun begitu melihat plan yang ditawarkan ternyata kurang menarik, $9.99/month atau $99/year untuk kapasitas 1TB (1000GB). Tidak ada opsi lain untuk pengguna personal selain tawaran tersebut. Meskipun dalam email disebutkan bahwa saya sebagai user existing akan mendapatkan 2 bulan gratis jika memilih upgrade ke paket tahunan, tapi kok ya masih belum bikin pengen pindah ke Pro ya. Pertama, kapasitasnya terlalu besar, harddisk nya saja tidak sampai 1TB trus kapasitas segitu diisi file apa dan disync kemana?. Kedua, karena kapasitasnya besar maka harganya juga lumayan. Padahal pengennya yang kapasitas menengah saja, 500GB atau malah 250GB gitu rasanya sudah cukup.

Selain Dropbox, sebenarnya saya sudah menggunakan layanan Box.com lebih dulu. Hanya saja aplikasi android dan desktop box.com –terus terang saja– jelek banget. Pengaturan sinkronisasi folder aplikasinya di PC juga tidak mudah, dan perlakuan terhadap file yang berbeda time stamp dan revision history nya juga aneh. Mungkin karena itu saya selama ini hanya menggunakan Dropbox karena dari semua sisi –menurut saya– jauh lebih user friendly.

Nah mulailah perjuangan mencari alternatif pengganti Dropbox. Dari hasil browsing ke berbagai situs yang menampilkan review layanan cloud storage ada banyak informasi berharga yang saya dapatkan. Dropbox ternyata tidak mengenkripsi file yang tersimpan di server mereka kecuali Anda berlangganan layanan Dropbox berbayar. File kita tersimpan apa adanya dan bisa diakses oleh Dropbox sebagaimana file lokal. Terms of Condition (ToC) yang kita setujui juga memberikan hak ke Dropbox untuk mengakses file kita untuk tujuan preventif atas pelanggaran ToC atau atas permintaan otoritas hukum sana (tidak terkecuali atas keperluan spying kan?). Yah meskipun file yang tersimpan hanya sebagian besar foto-foto unggahan smartphone, tapi file kerjaan kantor juga saya sync ke Dropbox. Jadi ngeri juga setelah mengetahui hal tersebut.

Dari hasil browsing sana-sini sementara ada beberapa layanan cloud storage yang akan menggantikan Dropbox untuk keperluan saya, kandidat yang menarik perhatian saya diantaranya adalah Sync.com dan MEGA.co.nz. Dua-duanya menawarkan security yang lumayan baik yaitu jaminan enkripsi file dari ujung ke ujung (end to end). Hal ini berarti file kita yang tersimpan di server mereka sudah dalam keadaan terenkripsi dan tidak bisa dibuka tanpa kunci (key) yang kita pegang. Bahkan dalam white papapernya, Sync membeberkan teknologi enkripsi yang mereka gunakan dan terlihat –dalam bahasa awam– sangat canggih dan –istilah anak mudanya– kekinian banget, hehehe. Kedua layanan ini juga melengkapi layanan mereka dengan aplikasi untuk smartphone Android yang memiliki fitur Camera Upload secara otomatis dan aplikasi sinkronisasi untuk PC. Sync memberikan storage gratis untuk pendaftar pemula sebesar 5GB, ditambah 1GB lagi yang bisa kita klaim kemudian jika kita melakukan beberapa aksi untuk memaksimalkan penggunaan Sync di PC dan smartphone. Sementara MEGA.co.nz memberikan kapasitas storage yang jauh lebih besar dengan 50GB bagi pengguna pemula.

So, dalam beberapa hari (atau minggu?) kedepan saya akan melakukan uji coba dan mengevaluasi penggunaan kedua layanan cloud storage diatas. Mudah-mudahan setelah dapat yang menurut saya sesuai, akan saya bahas lagi ulasan pro-kontra nya disini.

 

Banjarbaru @20150604

Pencitraan Diri di Media Sosial

Medsos? Wheew, cuma manusia dari jaman dinosaurus yang ga ngerti barang ginian. Medsos sudah bukan lagi sebuah fenomena, tapi sudah menjadi bagian hidup masyarakat modern. Ya, kayak beras gitu lah, atau garam, atau apalah yang kita sudah kehilangan rasa dunia kalau ga ada dia. Muehehehe.. lebay deh.

Alasan seseorang bergabung dan update posting segala aktivitas di medsos juga beragam, mulai dari niat pengen eksis (ini kira-kira menginfeksi sekitar 99,96% dari netizen menurut statistik hasil penerawangan..muehehehe ngarang.com), ada juga niat just-to-let-people-know-what-I-am-doing, niat memang share knowledge dan sesuatu yang dipikirnya bermanfaat (padahal juga ga se-bermanfaat yang dia pikirkan), ada juga semangat solidaritas atau komunitas, niat bisnis (ini juga banyak), tuntutan pekerjaan dan profesi, serta masih banyak niat-niat lainnya yang ga bisa disebutkan disini.

Nah, kebanyakan dari kita memang sulit membedakan mana yang boleh dibagi (share) di media sosial dan mana yang tidak. Batas antara boleh dan tidak boleh sangat tipis. Bahkan definisi “boleh” dan “tidak boleh” akan sangat berbeda untuk tiap-tiap orang. Banyak faktor yang menentukan, pendidikan misalnya, trus bisa jadi lingkungan, pergaulan, pekerjaan, kedewasaan, agama juga, mindset, dan banyak lagi faktor lain yang bisa menentukan. Intinya memang, karena hal ini tidak ada standarisasinya, ga ada manual book nya, jadi lah urusan posting-memposting di medsos ini sebagai sesuatu yang personal dan terkesan “semau gue”. Urusan rumah tangga misalnya, ini debatable banget. Ada yang menganggap, “It’s OK to share if it’s appropriate” misalnya share foto-foto keluarga biar kelihatan happy family gitu, ada juga yang “share everything” sampe curhat nangis bombay juga dibikin status sampai-sampai semua orang tau klo suaminya telat pulang –yang bisa saja karena lagi bocor ban gitu. Masalah pekerjaan misalnya, ada juga yang karena pengen eksis, sampai-sampai hal-hal yang berlabel company confidential juga diposting. Berabe lah pokoknya..πŸ˜€

Medsos tanpa disadari telah menjadi media “Public Relation” dari diri pribadi kita masing-masing. Dari situ kita posting hal-hal yang ingin diinformasikan ke dunia luar, yang pada ujungnya berbagai postingan ini akan membentuk citra (image) pribadi tentang kita di mata orang-orang yang menjadi sahabat kita di dunia maya. “Oh, si itu happy family banget ya”. “Dia itu lho, hebat banget bikin kue”. “Wah mbak ini kasian banget ya suaminya ga berperasaan”. “Saya jadi iri sama bapak itu kerjaannya jalan-jalan ke luar negeri terus”. Dan seterusnya, dan seterusnya. Begitulah image yang muncul dari perspektif (eah, berat benget bahasanya :D) sahabat-sahabat kita kalau mereka memperhatikan posting yang terpampang di medsos kita.

Jadi sekarang terserah kita untuk memanfaatkan medsos sebagai pembentuk citra diri. Asal jangan sampai setiap inchi hidup kita mulai dari bangun sampai tidur diposting. Semua orang tau keadaan rumah tangga kita. Kalau saya, lebih suka mengarahkan medsos dan blog (blog ini contohnya) sebagai imaging dari hobby dan ketertarikan saya, baik tentang dunia IT maupun habby lain yang saya gandrungi. Untuk hal-hal yang berbau keluarga tetap saya simpan sebagai hal yang private. Saya berusaha untuk tidak posting semua detail perjalanan hidup saya sebagai status, salah satu tujuannya adalah, begitu bertemu dengan teman lama maka akan ada banyak hal yang bisa dibicarakan. Coba bayangkan, bagaimana ga asyiknya berbasa-basi dengan kawan yang seluruh momen hidupnya bisa kita cek di medsos? Trus, apalgi yang mau diperbincangkan?

So, let’s share wisely. Think –at least twice– before click the update button..πŸ˜€

 

Banjarbaru @20150413

Google Cloud Platform: Solusi untuk keterbatasan infrastruktur dan data besar

Salah satu masalah dalam pengelolaan data pada sebuah korporasi adalah jumlah data yang sangat besar. Data dalam jumlah besar (big data) otomatis memerlukan infrastruktur yang baik (well-designed, well-built, and well-managed) untuk pengelolaannya. Tidak jarang juga data tersebut merupakan data transaksional yang dikumpulkan secara terus-menerus dan oleh karena sifat pemanfaatannya berubah menjadi data permanen yang tidak bisa dimusnahkan begitu saja.

Sebuah sistem informasi yang berjalan dengan data besar tentu saja akan mengalami banyak kendala, terutama dari pengelolaan data itu sendiri. Proses perbaikan, pengembangan, perpindahan (migrasi) sistem informasi akan menjadi momok yang luar biasa sulit untuk dihadapi. Jumlah SDM IT yang besar akan sangat diperlukan mulai dari hulu (pengelolaan data dan infrastruktur) hingga hilir (development dan maintenance) sistem informasi. Belum lagi dari sisi pengadaan hardware dan software, provisioning (setting up dan instalasi), operasional (lokasi gedung, tenaga listrik, ruangan, pendingin), pemeliharaan dan perbaikan serta proses backup yang keseluruhan prosesnya memerlukan biaya yang sangat besar.

Google, sebagai salah satu perusahaan internet terbesar saat ini, paham betul akan hal ini. Investasi sangat besar dalam infrastruktur IT sudah tidak lagi menjadi opsi yang menarik bagi hampir seluruh korporasi di dunia. Keadaan ekonomi yang labil membuat para korporasi lebih memilih β€œmengencangkan ikat pinggang”. Investasi lebih diarahkan ke hal yang lebih mengarah ke core business (seperti pembukaan pabrik atau cabang baru) daripada hanya untuk membeli infrastruktur IT yang –dari segi harga, operasional dan perawatanβ€” pastinya tidak murah.

Google Cloud Platform
Google Cloud Platform adalah solusi yang datawarkan oleh Google untuk mengatasi berbagai permasalahan seperti yang sudah dibahas sebelumnya dengan memanfaatkan berbagai keuntungan dari cloud computing. Hampir seluruh tipe layanan cloud computing telah tersedia di Google Cloud Platform yang meliputi infrastructure as a service (IaaS), platform as a service (PaaS) dan software as a service (SaaS). Berbagai layanan yang disediakan pada Google Cloud Platform memberikan kemudahan untuk pelanggan dalam menggunakan infrastruktur terbaik yang bisa didapatkan dengan harga yang kompetitif dan tanpa harus mengkhawatirkan tentang operasional dan pemeliharaan. Infrastruktur yang digunakan juga sama dengan yang digunakan oleh Google untuk menjalankan seluruh layanannya yang lain.

Keuntungan utama yang bisa didapatkan dari Google Cloud Platform adalah efisiensi dan penghematan dari segi waktu dan biaya, karena sudah tidak perlu lagi ada pembelian dan operasional infrastruktur IT untuk pengelolaan data besar tersebut dan SDM yang terlalu banyak untuk menjalankannnya. Layanan ini juga menjadikan pelanggannya bisa lebih fokus pada pengembangan aplikasi (dan produk) yang nantinya akan digunakan oleh user dan tidak perlu lagi khawatir akan pengelolaan infrastruktur karena sudah ditangani sepenuhnya oleh Google.

URL : http://cloud.google.com

 

Banjarbaru @20141205

Yuk, Abadikan Foto Si Kecil dengan Smartphone

Hadirnya si buah hati ke dunia adalah salah satu kebahagiaan yang tiada tara bagi sebuah keluarga, apalagi bila dia adalah anak pertama yang sudah lama ditunggu-tunggu kehadirannya. Semua ekspresinya, tangis, senyum, tawa, maupun tingkah-polah yang dilakukannya akan membawa warna tersendiri bagi kita selaku kedua orang tuanya. Momen-momen indah berharga tersebut rasanya sayang jika dilewatkan dan tidak diabadikan.

Nah di era modern sekarang dimana smartphone sudah dilengkapi dengan kemampuan lensa dan fitur fotograpi yang mumpuni, orang tua sangat mudah untuk mengabadikan momen berharga perkembangan si kecil lewat foto-foto yang diambil menggunakan smartphone tersebut. Tidak seperti dulu yang harus repot-repot menyalakan kamera dan mencetak film jika ingin melihat hasilnya seperti dulu. Memang, begitulah perkembangan teknologi membawa kemudahan bagi kita semua.

Percaya atau tidak, sejak putri kami, Aqila, lahir pada Desember 2013 hingga tulisan ini dibuat, kami setidaknya sudah memiliki 3000an fotonya (iya serius..3000an foto) yang kami jepret dari hape kami sendiri. Banyak ya? hehe..πŸ˜€

Nah ada tips nih untuk yang suka jepret-jepret foto dengan smartphone Android, coba aktifkan fitur Auto Backup dari aplikasi Google Plus (g+), maka g+ akan mengupload foto dan video yang anda jepret ke akun Google secara otomatis. Tidak perlu takut lagi kalau terjadi handphone rusak, hilang atau memory corrupt karena Anda masih punya cadangannya di akun Google Anda.

Alternatif selain Google Plus? Coba juga bikin akun di dropbox.com, install aplikasinya lalu aktifkan fitur Camera Upload di pengaturan maka foto-foto yang Anda jepret akan otomatis juga diunggah ke akun Dropbox Anda. Jika Anda juga memakai PC/Notebook pribadi yang terhubung ke internet, saya sarankan juga memasang aplikasi Dropbox untuk Windows/Mac/Linux. Aplikasi ini akan melakukan sikronisasi otomatis di belakang layar sehingga foto-foto yang tadi (dan juga file-file lainnya) sudah tersimpan di Dropbox juga akan terdownload otomatis ke PC/Notebook Anda.

Sering saat saya sedang jauh dari istri dan anak dan merasa kangen akan tingkah-polah lucunya, saya cukup meminta istri untuk jepret-jepret aktivitas si kecil. Tidak berapa lama, foto-fotonya sudah muncul dan bisa saya lihat langsung di smartphone dan Notebook saya. Keren kan? Pokoknya patut dicoba deh..πŸ˜€

 

Banjarbaru @20140428

Mobile device goes 64bit

Ada yg masih ingat tahun berapa chip CPU 64bit dirilis secara massal ke pasaran untuk desktop PC konsumen? Klo ga salah mungkin baru saja. Mungkin sekitar 2006-2007 klo ga salah. Saat itu lagi seru-serunya pertarungan antara Intel dan AMD. Prosesor 64bit untuk PC pertama kali kalau tidak salah adalah seri AMD Athlon, yang waktu itu dioptimalkan untuk para gamer.

Arsitektur 64bit bukan hanya penggandaan dari 32bit, tapi lebih kepada pemangkatan kinerja yang berkali-kali lipat. Sebagai contoh sederhana, prosesor 32bit hanya mendukung pemetaan RAM hingga 4 GB saja, sedangkat 64bit mampu mendukung RAM hingga 2 TB bahkan lebih. Meskipun dalam praktiknya banyak hardware-hardware lama untuk prosesor 32bit yang tidak lagi kompatibel, tapi penggunaan prosesor 64bit menawarkan performa yang luar biasa sebagai gantinya. Dan kini hampir semua prosesor PC sudah menggunakan prosesor 64bit, meskipun tidak semua user tahu mereka sudah memilikinya.

Saat belum semua pengguna desktop PC mampu memanfaatkan fitur prosesor 64bit secara maksimal, penggunaan prosesor 64bit sudah mulai merambah ke smartphone, tablet dan mobile device lainnya.

Dimulai dari rilisnya iPhone 5S yang mengusung system on chip Apple A7 yang sudah berarsitektur 64bit. Dan dalam waktu yang tidak lama lagi, keluarga besar Android juga akan menyusul menggunakan arsitektur 64bit juga. Salah satu perusahaan chip yang siap adalah Qualcomm dengan chip seri Snapdragon 808 dan 810 yang telah diperkenalkan ke publik dan telah siap untuk diadopsi oleh pabrikan handset Android.

Kita tunggu saja, sehebat apa perubahan yang dibawa prosesor 64bit ke dunia mobile device yang semakin hari semakin tidak terpisahkan dari kehidupan kita semua.

 

Banjarbaru @20140411

%d blogger menyukai ini: