Sebagai seorang manusia biasa, saya sering sekali mengeluh. Meskipun dalam setiap perbincangan dengan rekan lainnya saya selalu menyarankan mereka untuk keep fight, jangan mengeluh serta terus berjuang dengan segenap hati untuk mencapai apa yang mereka inginkan di dalam hidup. Ternyata bagi saya, melakukan hal tersebut juga masih terasa berat, meskipun dalam banyak kesempatan saya masih bisa mengatasinya dengan sedikit sabar dan “legowo” untuk menerima semua ujian yang sudah dianugerahi oleh Yang maha Kuasa tersebut.
Salah satu penyebabnya tentu saja masalah keuangan, yang oleh teman saya sering “disama-dengankan” dengan rejeki. Dahulu kala saya juga beranggapan demikian, akan tetapi seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup dan perbaikan diri (yang tentu saja tidak perlu saya ceritakan disini) akhirnya saya lebih menganggap “REJEKI” sebagai sesuatu yang lebih general. Singkatnya, rejeki bisa saya sama-dengankan dengan segala sesuatu yang terjadi atas diri saya sehingga dapat berefek positif dan menjadikan saya lebih baik. Kesimpulannya, dulu rejeki menurut saya adalah uang, keuntungan ekonomis dan sejenisnya. Sekarang rejeki bisa berupa ilmu, persahabatan yang baik, kesehatan, kesempatan kerja, ucapan terima kasih, mimpi baik, keturunan, jodoh, silaturrahmi dan lain sebagainya. Mohon maaf jika definisi diatas sama sekali berbeda dengan apa yang Anda fikirkan, akan tetapi Anda tetap harus menerimanya karena itu adalah konsekuensi atas kebersediaan Anda membaca note ini (maksa MODE ON).
Kembali ke masalah keuangan, saya yakin kita semua pernah, sedang dan akan mengalami hal tersebut, dimanapun kita berada dan berkarya untuk mencarinya. Bahkan motivator dan konsultan keuangan yang paling terkenal sekalipun, saya yakin mereka juga mengalaminya, hanya saja tidak dipublikasikan. Intinya adalah karena rejeki merupakan problematika hidup, maka pastilah setiap orang yang hidup mengalaminya, hanya saja dalam kadar yang berbeda sesuai kapasitas masing-masing.
Dalam tulisan ini saya tidak akan berbagi mengenai mengatasi masalah keuangan, ekonomi atau hal sejenisnya karena saya sama sekali bukan ahli dalam hal tersebut. Saya hanya tergerak untuk menulis dari apa yang telah saya alamai, dan mungkin juga sudah Anda alami. Rejeki, sebagai salah satu dari beberapa komponen kehidupan yang sifatnya rahasia (selain jodoh, maut dan teman-temanya) selalu tidak pernah kita ketahui kapan dianugerahkan kepada kita. Bahkan sering sekali harus bekerja keras sekian lama, tetapi belum juga memperoleh apa yang diharapkan. Berdoa sudah (kasarnya) “jungkir-balik” tetap juga belum kesampaian. Jadi apakah ada yang harus disalahkan ?? Kita kah yang kurang berusaha dan berdoa ?? atau Dia yang belum bersedia untuk memberikannya ??
Tidak akan pernah ada jawaban singkat untuk masalah diatas, bahkan bisa menimbulkan debat yangg luar biasa berkepanjangan. Tapi saya yakin satu hal, bahwa Dia memberikan rejeki pasti dengan jumlah proporsional dan di saat yang paling tepat. Meskipun kita merasa kurang tentang rejeki tersebut, itu bukan urusan-Nya. Urusan-Nya adalah menganugerahkan sesuai dengan keadaan kita saat itu.
Saat kecil saya senang main game yang isinya kisah tempur antar pesawat luar angkasa (lupa nama game-nya). Semakin banyak musuh yang saya jatuhkan, semakin banyak poin yang saya peroleh dan semakin banyak bonus yang saya dapatkan. Jika hal ini dibandingkan dengan rejeki, maka rejeki pasti akan diberikan olehNya kepada kita, hanya pertanyaannya adalah cukupkah “poin” yang sudah kita peroleh sehingga kita layak memperoleh bonus tersebut??
Beberapa hal yang kata orang tua bisa kita lakukan untuk memperbanyak poin diantaranya adalah usaha/kerja keras/effort, doa serta keyakinan yang kuat. Semua itu akan meningkatkan “poin” kita dan menjadikan “timing” kapan rejeki tersebut diberikan akan menjadi lebih jelas dan dekat. Selain itu ada hal lainnya yang tidak kalah penting yaitu selalu bersyukur akan apa yang sudah kita dapatkan. Bersyukur bukan berarti berterima kasih kepadaNya, karena Dia sama sekali tidak membutuhkan ucapan terima kasih kita. Syukur akan menjadikan kita pribadi yang lebih “legowo” untuk menerima segala pemberianNya, manis ataupun pahit. Hal ini sedikit banyak akan memberikan poin lebih kepada kita, sehingga sesuai janji-Nya hal tersebut akan dibalas dengan “bonus” yang lebih banyak lagi…
Hhhhhmmmmmmm…
Banjarbaru @20090505
Hmmm……..
Tp Ada Jer Ae Yang Poinnya sedikit tp Bonusnya Banyak….
Misalnya Jadi Anak Konglomerat gk perlu effort gede dia punya rezeki * agak ngiri coz bukan anak konglomerat
Tp Hidup mengajarkan Yang Bisa Bertahan Disaat Paling Sulit adalah Pemenang ……………
*alhamdulillah*
join http://djp.web.id donk bang Jer…