Feeds:
Tulisan
Komentar

No offense. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaan dan martabat wanita sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan.

Dalam eksistensinya sebagai seorang manusia, wanita tentu saja memiliki banyak sifat-sifat fitrah yang sama dengan pria. Salah satunya adalah ingin memiliki pasangan hidup yang diharapkan akan menjadi belahan jiwa sampai salah satu dari keduanya tutup usia. Saat hal yang paling diharapkan tsb tercapai, atau akan segera tercapai, biasanya akan mempengaruhi “kejiwaan” wanita tsb dengan efek yang beraneka ragam. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang bersuka-cita, ada yang mengalami euforia, dan lain sebagainya. Hal ini sangatlah wajar.

Nah, dalam keadaan seperti itu ada beberapa tipe wanita yang menjadikan hal tersebut sebagai salah satu poin untuk mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Ada juga yang membuat semacam ikrar pranikah yang pada intinya merupakan harapan sang wanita tersebut jika pernikahan benar-benar terlaksana.

Saya pernah nyasar (benar-benar nyasar!!) ke blog seorang wanita yang dalam salah satu page-nya tertulis sebagai berikut:

Sayang.. aku sedang mempersiapkan diri menata hati supaya kelak menjadi yang terindah bagimu
belajar pada Siti Hajar yang dengan sabar dan tanpa mengeluh menghadapi segala coba yang Allah berikan
belajar pada Siti Khadijah yang setia dan tanpa lelah menemani Rasulullah dalam perjuangannya
belajar pada Sembadra yang setia menunggui Arjuna
belajar pada Raihana yang tak lelah mencintai dan memberi ketulusan pada suaminya
dan belajar pada istri-istri teladan yang lain yang suatu saat akan aku tanamkan pada diriku

(diambil dari http://ahdika.wordpress.com/2009/06/06/catatan-hati-para-calon-suami-dan-istri/)

Pastinya ungkapan diatas hanya salah satu bentuk dari ikrar pranikah seorang wanita, masih banyak lagi yang lainnya. Ikrar tersebut setidaknya ditujukan kepada dirinya sendiri tentang hal yang akan diusahakannya jika pernikahan tersebut terjadi dan dalam prakteknya tidak semua wanita memiliki ikrar pranikah.

Melihat kenyataan bahwa lika-liku rumah tangga merupakan suatu hal yang kompleks maka hal tersebut menimbulkan DUA pertanyaan besar dalam benak saya:

Pertama: Apakah ikrar semacam itu dibuat secara sungguh-sungguh? apakah ikrar tsb tertanam kuat dlm jiwa wanita tsb untuk dijalankan seumur hidupnya? atau hanya sebagai “pelicin” agar Tuhan melancarkan jodohnya? atau bisa jadi nantinya akan dilupakan begitu saja seiring berjalannya waktu?

Kedua: Apakah ikrar semacam ini cukup “material” untuk bisa ditagih nantinya?

Hmmm….

PS: Ini cuma pikiran iseng, jgn ditanggapi secara serius.. :-)

Sebagai seorang manusia biasa, saya sering sekali mengeluh. Meskipun dalam setiap perbincangan dengan rekan lainnya saya selalu menyarankan mereka untuk keep fight, jangan mengeluh serta terus berjuang dengan segenap hati untuk mencapai apa yang mereka inginkan di dalam hidup. Ternyata bagi saya, melakukan hal tersebut juga masih terasa berat, meskipun dalam banyak kesempatan saya masih bisa mengatasinya dengan sedikit sabar dan “legowo” untuk menerima semua ujian yang sudah dianugerahi oleh Yang maha Kuasa tersebut.

Salah satu penyebabnya tentu saja masalah keuangan, yang oleh teman saya sering “disama-dengankan” dengan rejeki. Dahulu kala saya juga beranggapan demikian, akan tetapi seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup dan perbaikan diri (yang tentu saja tidak perlu saya ceritakan disini) akhirnya saya lebih menganggap “REJEKI” sebagai sesuatu yang lebih general. Singkatnya, rejeki bisa saya sama-dengankan dengan segala sesuatu yang terjadi atas diri saya sehingga dapat berefek positif dan menjadikan saya lebih baik. Kesimpulannya, dulu rejeki menurut saya adalah uang, keuntungan ekonomis dan sejenisnya. Sekarang rejeki bisa berupa ilmu, persahabatan yang baik, kesehatan, kesempatan kerja, ucapan terima kasih, mimpi baik, keturunan, jodoh, silaturrahmi dan lain sebagainya. Mohon maaf jika definisi diatas sama sekali berbeda dengan apa yang Anda fikirkan, akan tetapi Anda tetap harus menerimanya karena itu adalah konsekuensi atas kebersediaan Anda membaca note ini (maksa MODE ON).

Kembali ke masalah keuangan, saya yakin kita semua pernah, sedang dan akan mengalami hal tersebut, dimanapun kita berada dan berkarya untuk mencarinya. Bahkan motivator dan konsultan keuangan yang paling terkenal sekalipun, saya yakin mereka juga mengalaminya, hanya saja tidak dipublikasikan. Intinya adalah karena rejeki merupakan problematika hidup, maka pastilah setiap orang yang hidup mengalaminya, hanya saja dalam kadar yang berbeda sesuai kapasitas masing-masing.

Dalam tulisan ini saya tidak akan berbagi mengenai mengatasi masalah keuangan, ekonomi atau hal sejenisnya karena saya sama sekali bukan ahli dalam hal tersebut. Saya hanya tergerak untuk menulis dari apa yang telah saya alamai, dan mungkin juga sudah Anda alami. Rejeki, sebagai salah satu dari beberapa komponen kehidupan yang sifatnya rahasia (selain jodoh, maut dan teman-temanya) selalu tidak pernah kita ketahui kapan dianugerahkan kepada kita. Bahkan sering sekali harus bekerja keras sekian lama, tetapi belum juga memperoleh apa yang diharapkan. Berdoa sudah (kasarnya) “jungkir-balik” tetap juga belum kesampaian. Jadi apakah ada yang harus disalahkan ?? Kita kah yang kurang berusaha dan berdoa ?? atau Dia yang belum bersedia untuk memberikannya ??

Tidak akan pernah ada jawaban singkat untuk masalah diatas, bahkan bisa menimbulkan debat yangg luar biasa berkepanjangan. Tapi saya yakin satu hal, bahwa Dia memberikan rejeki pasti dengan jumlah proporsional dan di saat yang paling tepat. Meskipun kita merasa kurang tentang rejeki tersebut, itu bukan urusan-Nya. Urusan-Nya adalah menganugerahkan sesuai dengan keadaan kita saat itu.

Saat kecil saya senang main game yang isinya kisah tempur antar pesawat luar angkasa (lupa nama game-nya). Semakin banyak musuh yang saya jatuhkan, semakin banyak poin yang saya peroleh dan semakin banyak bonus yang saya dapatkan. Jika hal ini dibandingkan dengan rejeki, maka rejeki pasti akan diberikan olehNya kepada kita, hanya pertanyaannya adalah cukupkah “poin” yang sudah kita peroleh sehingga kita layak memperoleh bonus tersebut??

Beberapa hal yang kata orang tua bisa kita lakukan untuk memperbanyak poin diantaranya adalah usaha/kerja keras/effort, doa serta keyakinan yang kuat. Semua itu akan meningkatkan “poin” kita dan menjadikan “timing” kapan rejeki tersebut diberikan akan menjadi lebih jelas dan dekat. Selain itu ada hal lainnya yang tidak kalah penting yaitu selalu bersyukur akan apa yang sudah kita dapatkan. Bersyukur bukan berarti berterima kasih kepadaNya, karena Dia sama sekali tidak membutuhkan ucapan terima kasih kita. Syukur akan menjadikan kita pribadi yang lebih “legowo” untuk menerima segala pemberianNya, manis ataupun pahit. Hal ini sedikit banyak akan memberikan poin lebih kepada kita, sehingga sesuai janji-Nya hal tersebut akan dibalas dengan “bonus” yang lebih banyak lagi…

Hhhhhmmmmmmm…

Banjarbaru @20090505

Bekerja di kantor baru pastinya akan menemukan masalah baru, apalagi dalam posisi yang belum pasti alias belum definitif (OJT). Meskipun sambutan yang didapat lumayan hangat dan bersahabat tetapi tidak serta-merta langsung memperoleh fasilitas layaknya rekan lainnya yang lebih dahulu eksis disitu (alias sudah senior).

Terbiasa dengan tempat kerja sebelumnya yang selalu update dan “hi-tech” menumbuhkan semacam perasaan adiktif, terutama untuk “always connected” ke internet, media komunikasi yang kata orang penuh dengan sisi positif-negatif. Terkendala dengan kurang terpenuhinya “kebutuhan” tersebut, terutama saat adanya pembatasan dan hak akses terhadap orang-orang dengan posisi dan jabatan tertentu terhadap media PC yang terkoneksi internet, membuat kami (lebih tepatnya saya) terpaksa harus memutar otak untuk mencoba “mengakali” hal tersebut, meskipun dengan cara apapun (asal halal tentunya) dengan menggunakan “hard and soft skill” yang telah dimiliki sebagai seorang engineer di tempat kerja sebelumnya.

Ketentuan yang berlaku mengatur bahwa di setiap sub unit hanya dua orang saja yang boleh menggunakan internet, yang tentunya si bos dan salah seorang anak-buahnya. Hal ini menjadikan saya (karena rekan lainnya sepertinya tidak pernah ribut soal ini) kelimpungan saat ada keperluan untuk cek email, submit e-registration, fesbuk, ym, baca kompas cyber media, dll. Saling bergantian menggunakan PC yang bisa internetan (istilah ndeso dari “connected to internet”) menjadi lumrah, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa aktivitas tersebut (maksudnya pas bergantian memakai PC tersebut, bukan pas buka buka internetnya) sangat menggangu kinerja kami. Walhasil beberapa laporan (termasuk laporan bulanan dan triwulan kantor) yang harus disampaikan menjadi tertunda penyelesaiannya.

Orang bijak selalu berkata bahwa manusia tumbuh dan dewasa karena permasalahan (halahh!). Untung didunia ini Allah SWT menciptakan orang-orang pintar yang sekaligus tidak pelit (termasuk saya… halah lagi!). Dengan berbekal software freeproxy, yang tentunya sumbangan orang pintar selain saya dan bisa saya download gratis dari internet, yang dinstall di PC yang bisa internetan tersebut akhirnya permasalahan kami sedikitnya bisa diatasi. Sekarang saya sudah bisa surfing (barang apa lagi ini??) internet dari meja saya, tentunya dengan monitor LCD merk HP L1750 yang dilindungi ordner berkas “Pemindahbukuan” untuk menghalangi mata bos saya dengan screen fesbuk yang warnanya biru norak dan selalu online dari pagi hingga saya pulang.

Dan akhirnya, note ini pun ditulis dalam keadaan tergesa-gesa karena harus menyelesaikan report yang tadinya tertunda…

Banjarbaru @20090501

Am I workaholic ?

Yups, terkadang kepikiran juga pertanyaan diatas. Klo mau dijawab sih jadinya :

May be yes… May be no..

Ngikutin iklan rokok? ga juga. Berikut aktivitas harian gue:

- Bangun pagi jam 6.30
- Berangkat kerja jam 7.15
- Istirahat siang pukul 12.15 sampai 13.15
- Kerja lagi sampai pukul 17.00, sering kali belum selesai dan diteruskan sampai 18.30. Setelah itu pulang.
- Sampai rumah pukul 19.30
- Ngaso dan family time sampai pukul 23.00
- Tidur pukul 23.30

Dari daftar aktivitas tsb bisa dihitung klo jam kerja rata-rata harian gue adalah 10 jam. OMG!!!

So, termasuk workaholic kah? Gimana pendapat anda ? Atau cuma termasuk another lazy man ??

[i don't think so..]

Blackberry 7100 jadul gue..

Blackberry 7100 jadul gue..

BlackBerry, produk mobile smartphone dari Research In Motion (RIM), merupakan salah satu produk smartphone yang memiliki keunggulan tersendiri dalam setiap rilisnya. BlackBerry sangat unggul dan reliable dalam mengusung fasilitas utamanya yaitu Push Email. Ditambah lagi dengan kemudahan interkoneksi dengan berbagai layanan messenger seperti Yahoo!, Google, Windows Live, AIM, AOL dsb menjadikan BlackBerry menjadi pilihan utama kawula muda hingga kalangan eksekutif yang mobile.

Push Email?? Wat’s dat??… Ok..ok.. sebelum berkenalan dengan push email sebaiknya kita mencoba membandingkan dengan sistem konvensional yang ada sekarang yaitu Pull Email. Pull Email merupakan istilah dimana user atau pengguna mengakses email secara manual menggunakan email client baik dari desktop (menggunakan Outlook atau Thundherbird), web based (web yahoo, google, hotmail, OWA) atau mobile email client (Yahoo! Go, Gmail for mobile, Emoze). Nah jadi bisa dibayangkan, pull email berarti user harus menarik (pull) email dari server sesuai media yang digunakan. Berbeda dengan pull email, layanan push email mengantarkan email langsung ke perangkat handheld user layaknya SMS. Menarik bukan???

Apa lagi yang menarik dari BlackBerry? Menurut saya kelebihan utama lainnya yang sangat membantu adalah support rilis firmware yang kontinyu dari RIM sehingga setiap kali ada bug atau error maka user hanya perlu install firmware baru tanpa harus beli perangkat seri terbaru. Instalasi firmware juga sangat mudah, bahkan oleh pengguna awam sekalipun. Dengan menggunakan tool BlackBerry Desktop Manager maka proses instalasi akan disuguhkan menggunakan wizard sehingga cukup klik next..next..dan next..

 

Segitu dulu yah.. to be continued ! :)

Online recruitment?? Cool…

Akhir-akhir ini dapat email dari teman-teman yang mengabarkan ada rekrutmen CPNS dari berbagai Depertemen, isinya Dephut, Depkeu, Depdag, Depkominfo, dll. Weeh, lumayan jug a di era serba susah cari kerjaan seperti sekarang berita itu bisa jadi semacam pelipur lara bagi rekan-rekan yang masih berstatus “pengacara”. Kesimpulannya ada “audisi” berarti ada “harapan” untuk dapat kerjaan…

Iseng klik satu-satu link yang didapat, eh, kagok juga. Ternyata semua sudah merujuk dan menggunakan website sebagai media penerimaannya. Formulir digital hampir sudah diterapkan secara penuh menggantikan formulir kertas (yang dulunya harus diserahkan pake amplop warna-warni segala..).

OK lah, ternyata sudah ada kemajuan rupanya, meskipun masih banyak juga yang pesimis, skeptis dan keukeuh bahwa Indonesia masih ketinggalan lah.. jadul lah..

So, selamat berjuang bagi rekan-rekan sekalian yang ndaftar dan ikut test PNS tahun 2008 ini. Moga sukses aja dan jangan lupa do’a yah….

Now, I hate IE

Sejak ngeklik internet pertama kali tahun 2001an, saya menggunakan Internet Explorer (IE), bahkan sampai tahun-tahun berikutnya. Begitu juga saat mengerjakan project-project web, semua layout dan standarisasi script selalu saya sesuaikan dengan IE. Terutama pada saat itu Microsoft menciptakan beberapa teknologi yang “sangat IE – Microsoft”, seperti DHTML dan Frontpage Extension, yang sekarang sudah sangat basi sekali.

Sampai pada setahun terakhir, saya mulai bosan dengan segala error yang timbul, dan juga masalah security yang tidak ada habis-habisnya dikupas di hampir semua forum security komputer. Dan juga dari sisi tampilan yang begitu-begitu saja, mengingat hampir semua browser lain sudah membuat tampilan “tab”. Kebetulan untuk masalah “tab”, pas nginstall Yahoo! Messenger, ada Yahoo! Toolbar yang menambahkan tampilan tab untuk IE. Tapi fasilitas ini juga sering error dan bikin IE tambah sering “not responding”.

ie.jpg

Opera dan Firefox, jadi pilihan yang paling banyak disukai netter untuk mengganti IE. Opera dulunya merupakan browser yang sama tuanya dengan IE, tapi berhasil sedikit demi sedikit merebut pasaran IE terutama setelah Opera untuk handheld semakin digandrungi. Firefox, yang dilahirkan kembali setelah kematian Netscape Navigator menjadi pilihan netter setelah kepopulerannya tergabung dalam project open source dan menjadi browser GUI utama untuk berbagai distribusi GNU/Linux.

Berkaitan dengan dirilisnya Windows Vista, Microsoft merilis IE versi 7. Dengan berbagai perbaikan bug, security dan lain-lain yang menjadi PR Microsoft. Tapi sama seperti IE 6 pada Windows XP, pada awalnya penuh dengan promosi tapi lahirnya hanya menjadi “just another IE“.

Untuk anda yang masih ingin membaca beberapa hal mengenai IE, klik http://www.techsupportforum.com/sitemap/f-56.html

Derita Job Seeker..

Hari ini, tepat 12 hari saya lulus dari kampus yg selama ini saya kunjungi –STMIK Banjarbaru. Ijazah sudah dikantongi, tinggal ada perbaikan sedikit pada Transkrip perihal nilai yg salah dalam penulisan. Ada kegembiraan yg luar biasa, baik lahir maupun bathin. Lahiriah — saya tidak perlu repot-repot lagi ke kelas, perpus, pertemuan, dll. Batiniah — saya telah menunaikan kewajiban yang diberikan orang tua dan telah mendapat sedikil bekal untuk bersaing dimasa depan yang menurut orang-orang adalah zaman EDAN.

Beberapa hari yang lalu, saya merenung. Ternyata euforia kelulusan itu cuma sesaat. Bayang-bayang hari yang akan dilalui menjadi semakin jelas. Bekerja (kantoran maupun niaga) harus menjadi hal yang akan ditempuh. Ternyata semuanya masih belum selesai…

Saya telah terbiasa, mengais-ngais lowongan pekerjaan yang ditawarkan. Banjarmasin Post, karir.com, jobindo.com, dll adalah beberapa media yg saya jadikan acuan. Ternyata.. mencari pekerjaan bukan hal yang mudah dilakukan pada masa ini. Berbagai persyaratan harus dipenuhi, fluent in english, TOEFL sertification, IT sertifiction, CISCO, dll. Weleh…weleh..

Saya membayangkan, menurut TV ada puluhan ribu sarjana dan diploma (belum lagi lulusan SMA) yang lulus setiap tahun. Trus mereka (termasuk saya) harus memperebutkan lahan pekerjaan yang sangat terbatas. Disini peran kerasnya perjuangan sewaktu kuliah diperlukan. Bagi yang terbiasa organisasi, forum, lab, dll akan lebih mudah beradaptasi dengan proses “audisi” yang diberlakukan dunia kerja. Bagi yang terbiasa santai, alamat akan mendapatkan kesuilitan. Tapi itu teori, kebanyakan lebih dipengaruhi keberuntungan, pintar atau tak pintar semua memiliki kesempatan fifty-fifty..

Akhirnya saya memejamkan mata. BISMILLAH. Demi semua yang akan diperjuangkan, saya harus bercebur kedunia yang menurut orang EDAN ini.

Wish me luck !!. Buat temen2 yang juga telah dan akan lulus. Selamat berjuang !!!

Blog baru.. Hari baru..

Selamat datang di Peace Land-nya Jerry Ramdhana. Blog ini dibuat hari Senin tanggal 4 Februari 2008. Pada awalnya terinspirasi oleh blognya saudara Aidil Berkati, dan setelah membaca blog “Master IT” nya Indonesia -Budi Rahardjo-jadi semakin bersemangat..

Saya masih bingung blog ini bakal diisi apa?? mengingat saya bukan personil yang punya banyak hobby. Tapi optimis aja, tuk sementara biarkan jadi gado2 online..

Pas milih theme, saya tertarik dengan Ocean Mist dari Ed Merritt. Jadi ngingetin sama Muara Teweh – my home land.. Jadi ngerasa lebih peace and pengen pulkamp.. (padahal ga ada miripnya sama sekali..).

So, met surfing di blog ane (biarin ga ada isinya)…